IMPLIKASI PROFESIONALISME GURU DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA MTS SALAFIYAH SYAFI’IYAH GROGOLPENATUS KEBUMEN
DOI:
https://doi.org/10.62017/merdeka.v3i5.8068Keywords:
Profesionalisme Guru PAI, Empat Kompetensi Guru, Minat Belajar Siswa, Kurikulum tersembunyi, Madrasah SalafiyahAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bentuk nyata profesionalisme guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan implikasinya secara langsung dalam mendongkrak minat belajar siswa di MTs Salafiyah Syafi’iyah Grogolpenatus Kebumen. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan secara autentik melalui observasi kelas, penelusuran data online untuk memperoleh informasi yang sudah dibuat oleh madrasah, wawancara mendalam bersama kepala madrasah, guru PAI, dan perwakilan siswa, serta diperkuat oleh studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesionalisme guru PAI tidak sekadar direduksi sebagai pemenuhan administratif formal, melainkan sebuah komitmen mutu kerja nyata yang diejawantahkan secara utuh melalui penguasaan empat kompetensi keguruan (profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial). Penguasaan materi secara matang mampu memusatkan perhatian (attention) siswa. Pengelolaan kelas yang menyenangkan berbasis media visual proyektor efektif meruntuhkan kecemasan belajar (anxiety) sehingga mendongkrak keaktifan (participation) siswa. Keteladanan karakter (uswah bil a’mal) guru memicu rasa hormat sukarela (voluntary respect) yang mendisplinkan moral akademik siswa. Serta, komunikasi kolaboratif bersama orang tua melahirkan kontrol berkesinambungan (continuous monitoring) yang melejitkan antusiasme religius siswa dalam mengikuti serangkaian program keagamaan rutin lapangan khas salafiyah. Secara teoretis, temuan ini merekonstruksi teori profesionalisme konvensional menjadi sebuah konsep spiritual-transformatif, di mana guru PAI mengintegrasikan peran pengajar (mu’allim), pendidik moral (murabbi), dan pembimbing spiritual (mursyid). Keluhuran akhlak autentik pendidik tersebut beroperasi sebagai kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang terbukti paling efektif menyentuh hati dan melestarikan minat belajar intrinsik siswa di era digital.










