Self-Regulated Learning dalam Penguatan Hafalan Al-Qur’an Santri PPTQ Baitul Abidin Darussalam Wonosobo
DOI:
https://doi.org/10.62017/merdeka.v3i5.8006Keywords:
hafalan Al-Qur’an, pondok pesantren tahfidz, santri putri, self-regulated learningAbstract
Keberhasilan menghafal Al-Qur’an tidak bisa hanya mengandalkan bimbingan pengasuh dan ustadzah atau lingkungan pesantren yang baik. Pada akhirnya, kemampuan santri dalam mengatur proses hafalannya sendirilah yang paling menentukan. Di PPTQ Baitul Abidin Darussalam, kenyataan ini terlihat jelas — sebagian santri memiliki hafalan yang kuat dan konsisten, sementara yang lain mudah lupa dan kurang disiplin dalam muraja’ah, terutama mereka yang sekaligus menjalani kuliah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana self-regulated learning diterapkan oleh santri putri, apa saja yang mendukung dan menghambatnya, serta seberapa besar perannya dalam menguatkan hafalan Al-Qur’an di PPTQ Baitul Abidin Darussalam Ngebrak Wonosobo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa santri menerapkan SRL melalui tiga tahap: perencanaan target hafalan, pelaksanaan strategi menghafal, dan evaluasi melalui muraja’ah. Faktor pendukungnya meliputi lingkungan pesantren yang kondusif, sistem setoran yang terstruktur, serta motivasi dari pengasuh dan keluarga. Sedangkan faktor penghambatnya adalah sulitnya membagi waktu antara kuliah dan menghafal, minimnya muraja’ah, dan kelelahan. Santri yang mampu mengelola proses hafalannya secara mandiri melalui keseimbangan antara ziadah dan muraja’ah terbukti memiliki hafalan yang lebih kuat dan tahan lama.










