FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU SADARI PADA AKSEPTOR KB HORMONAL DI DESA CURUG GUNUNG SINDUR TAHUN 2025
DOI:
https://doi.org/10.62017/jkmi.v3i1.5433Keywords:
hormonal, perilaku, SADARIAbstract
Kanker payudara menjadi jenis kanker utama di kalangan wanita, baik secara global maupun di Indonesia. Selama lebih dari tiga dekade terakhir, 68-70% pasien dengan kanker payudara mengalami keterlambatan diagnosis, yang berdampak negatif pada pilihan pengobatan. Salah satu alasannya adalah tidak menganggap penting pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebagai deteksi dini kanker payudara. Prevalensi SADARI secara nasional di Indonesia masih rendah, yang dipengaruhi oleh faktor demografi, psikososial, dan pengetahuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku SADARI pada akseptor KB hormonal di Desa Curug Gunung Sindur tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel sebanyak 210 akseptor KB hormonal di Desa Curug, Gunung Sindur yang ditentukan dengan Rapid Survey 30x7. Kemudian di analisis secara univariat dan bivariat menggunakan Chi Square dengan α = 0,05. Dua dari lima akseptor KB hormonal (40%) di Desa Curug mengakui telah mempraktikkan SADARI, tetapi hanya 17,6% yang melaporkan melakukannya secara rutin. Terdapat hubungan antara persepsi hambatan, persepsi manfaat, sikap terhadap perilaku, dan norma subjektif dengan perilaku SADARI. Penelitian menunjukkan bahwa empat dari delapan faktor psikososial terkait dengan perilaku SADARI. Saran yang diberikan ialah mengadakan pendidikan kesehatan baik kepada akseptor KB hormonal maupun kader untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan, menghilangkan kesalahpahaman, meluruskan keyakinan yang keliru, dan mengatasi kendala terkait SADARI.