ANALISIS SPASIAL SEBARAN TIKUS PEMBAWA LEPTOSPIRA DI PELABUHAN TANJUNG PERAK DAN GRESIK
DOI:
https://doi.org/10.62017/jkmi.v1i4.1788Keywords:
Spasial, Tikus, dan LeptospiraAbstract
Berdasarkan data angka kematian akibat dari penyakit leptospirosis, Indonesia menduduki posisi teratas ketiga setelah Uruguay dan India. Bakteri leptospira muncul di daerah yang beriklim tropis dan subtropis. Tikus dapat memberikan dampak negatif yang signifikan pada kesehatan, salah satu penyakit yang disebabkan oleh kehadiran tikus adalah leptospirosis. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif menggunakan analisis spasial dengan data sekunder. Data didapatkan dari KKP wilayah kerja Tanjung Perak dan Gresik Data penelitian ini pada bulan Mei tahun 2023. Lokasi penelitian berada di dua titik yaitu Pelabuhan Tanjung Perak Dan Pelabuhan Gresik.. Hasil penelitian terhadap tikus pembawa leptospirosis di lokasi penelitian membuktikan, bahwa dari 100 perangkap tikus dari pelabuhan tanjung perak ditemukan 17 tikus, 3 jenis yang teridentifikasi sebagai Mus Musculus, Rattus tanezumi, dan Rottus norvegicus. Sedangkan perangkap tikus yang ada di wilker Gresik mengidentifikasi hanya satu jenis tikus yang diidentifikasikan sebagai Rattus norvegicus, dan tidak menunjukkan positif leptospirosis. Analisis hasil pemetaan menunjukkan bahwa Pelabuhan Tanjung Perak memiliki sebaran tikus pembawa leptospirosis yang lebih banyak daripada pelabuhan Gresik. diperlukan pengendalian lebih intensif di wilayah tersebut dan rekomendasi termasuk peningkatan program pengendalian tikus, kebersihan lingkungan, dan edukasi masyarakat. Hasil ini menjadi dasar penting untuk strategi pengendalian dan pencegahan leptospirosis di Pelabuhan Tanjung Perak.