Dialektika Pembaruan dan Tradisi: Analisis Perbandingan Pemikiran Keagamaan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama
DOI:
https://doi.org/10.62017/jppi.v3i4.7505Keywords:
Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, pendidikan Islam, pembaruan, tradisiAbstract
Abstrak
Sejarah, tokoh, serta pemikiran pendidikan Islam dalam dua organisasi Islam besar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Kedua organisasi ini memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia sejak masa sebelum kemerdekaan hingga sekarang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yaitu dengan mengkaji berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan penelitian yang berkaitan dengan topik pembahasan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Muhammadiyah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan pada tahun 1912 lebih menekankan pada pembaruan pendidikan dengan memadukan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Melalui sistem pendidikan yang lebih modern, Muhammadiyah berupaya menciptakan generasi Islam yang berilmu, rasional, dan mampu menghadapi perkembangan zaman. Sementara itu, Nahdlatul Ulama yang didirikan oleh Hasyim Asy'ari pada tahun 1926 mengembangkan pendidikan yang berakar pada tradisi pesantren. Pendidikan dalam lingkungan NU lebih menekankan pada penguatan ilmu agama, akhlak, serta penghormatan terhadap guru dan ilmu pengetahuan. Meskipun memiliki pendekatan yang berbeda, kedua organisasi ini sama-sama memberikan kontribusi besar dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Muhammadiyah dikenal dengan sistem pendidikan modernnya, sedangkan NU kuat dalam jaringan pesantren dan pendidikan berbasis masyarakat. Perbedaan tersebut justru saling melengkapi dan berperan penting dalam membentuk pendidikan Islam yang moderat, berkembang, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Abstract
This study discusses the history, figures, and educational thoughts of Islam within two major Islamic organizations in Indonesia, namely Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama. Both organizations have played a very important role in the development of Islamic education in Indonesia from the pre-independence era until the present. This research uses a qualitative method with a literature study approach by examining various sources such as books, journals, and studies related to the topic.
The results show that Muhammadiyah, founded by Ahmad Dahlan in 1912, emphasizes educational reform by combining religious and general sciences. Through a more modern educational system, Muhammadiyah seeks to create knowledgeable, rational Muslim generations capable of facing modern developments. Meanwhile, Nahdlatul Ulama, founded by Hasyim Asy'ari in 1926, develops education rooted in the pesantren tradition. Education within NU places greater emphasis on strengthening religious knowledge, morality, and respect for teachers and knowledge.
Although they have different approaches, both organizations have made major contributions to the development of Islamic education in Indonesia. Muhammadiyah is known for its modern education system, while NU is strong in pesantren networks and community-based education. These differences complement one another and play an important role in shaping moderate, progressive Islamic education that meets the needs of Indonesian society.










