"ANALISIS BIAYA BAHAN BAKU, BARANG RUSAK, DAN BAHAN SISA TERHADAP HARGA POKOK PRODUKSI PADA SALAH SATU USAHA KAYU LAPIS DI KABUPATEN MAGELANG"
DOI:
https://doi.org/10.62017/jemb.v3i6.7877Keywords:
biaya bahan baku, barang rusak, sisa bahan, harga pokok produksiAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh biaya bahan baku, barang rusak, dan sisa bahan terhadap harga pokok produksi pada salah satu usaha kayu lapis di Magelang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data diperoleh secara langsung dari pemilik usaha kayu lapis yang telah beroperasi sejak tahun 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan baku utama yang digunakan berasal dari limbah kayu rotary yang tidak dimanfaatkan untuk produk lokal. Biaya bahan baku dalam satu kali proses produksi mencapai Rp2.500.000, termasuk biaya transportasi. Harga bahan baku cenderung stabil dan jarang mengalami kenaikan maupun penurunan harga. Dalam proses produksi, usaha mengalami kendala berupa barang rusak akibat kadar air kayu yang masih tinggi sehingga proses pengeringan tidak berjalan secara optimal. Meskipun demikian, barang rusak masih dapat diolah kembali sehingga tetap memiliki nilai jual dan tidak terlalu memengaruhi total biaya produksi. Selain itu, sisa hasil produksi masih dimanfaatkan kembali sebagai kayu bakar maupun dijual sehingga memberikan nilai ekonomis tambahan bagi usaha. Kendala terbesar yang dihadapi usaha adalah faktor cuaca yang memengaruhi proses pengeringan kayu. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan memperbanyak persediaan bahan baku ketika cuaca sedang baik atau panas. Berdasarkan hasil penelitian, biaya bahan baku merupakan komponen utama yang memengaruhi harga pokok produksi, sedangkan barang rusak dan sisa bahan memberikan pengaruh tambahan terhadap efisiensi biaya produksi. Oleh karena itu, pengelolaan bahan baku, pengendalian barang rusak, dan pemanfaatan sisa bahan perlu dilakukan secara optimal agar proses produksi dapat berjalan lebih efisien.








